10 November 2009
PENGUKURAN DIAMETER DAN LUAS BIDANG DASAR POHON
1.1 Latar Belakang
Pengukuran merupakan hal yang paling penting dilakukan, karena dapat mengetahui atau menduga potensi suatu tegakan ataupun suatu komunitas tertentu. Dalam memperoleh data pengukuran, jenis dan cara penggunaan alat merupakan faktor penentu utama yang mempengaruhi keotentikan data yang diperoleh. Semakin bagus alat yang dipergunakan maka semakin baik pula hasil pengukuran yang akan didapat. Demikian pula halnya dengan kemampuan pengamat dalam pengukuran, semakin baik dalam penggunaan suatu alat maka semakin baik pula data yang dikumpulkan.
Pendugaan suatu komunitas salah satunya dilakukan dengan melakukan pengukuran pada diameter pohon dari komunitas yang akan diketahui tersebut. Diameter merupakan dimensi pohon yang sangat penting dalam pendugaan potensi pohon dan tegakan. Data diameter bukan hanya diperlukan untuk menghitung nilai luas bidang dasar suatu tegakan melainkan juga dapat digunakan untuk menentukan volume pohon dan tegakan, berguna dalam pengaturan penebangan dengan batas diameter tertentu serta dapat digunakan untuk mengetahui struktur suatu tegakan hutan.
Pengukuran diameter pohon dengan menggunakan beberapa alat yang berbeda akan menghasilkan data yang berbeda pula. Dengan demikian, perbedaan relatif dari keakuratan data yang diperoleh diantara alat yang berbeda akan terlihat. Sehingga dapat diketahui pula kelebihan dan kelemahan suatu alat tertentu.
1.2 Tujuan
Bertolak dari latar belakang tersebut diatas, tujuan yang ingin dicapai ialah:
1. Mengetahui cara penggunaan alat-alat ukur diameter dan luas bidang dasar (LBDS) dengan benar
2. Mengetahui perbandingan relatif dari keakuratan hasil pengukuran antar alat yang berbeda.
3. Mengetahui hasil perbandingan diameter pohon dengan pita ukur dan alat ukur lainnya.
1.3 Manfaat
Dengan tercapainya tujuan diatas, manfaat yang dapat diperoleh ialah:
1. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran diameter dengan cara yang benar lebih akurat.
2. Dapat diketahui alat yang tepat dan akurat digunakan dalam pengukuran diameter pohon atau tegakan.
II. METODE PENELITIAN
2.1 Lokasi dan Waktu
Pengukuran diameter dan luas bidang dasar pohon dilakukan di Arboretum Fakultas Kehutanan IPB. Pengukuran dilakukan pada tanggal 16 Mei 2009 mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB.
2.2 Alat dan Bahan
Pohon yang diukur berjumlah sepuluh (10) pohon dengan jenis dan ukuran yang berbeda. Penentuan jenis dan ukuran pohon bergantung pada kondisi dilapangan (pembagian jalur pengukuran). Adapun alat-alat yang digunakan dalam pengukuran ini ialah:
Pita ukur (pita keliling)
Caliper
Spiegel Relaskop Bitterlich (SRB)
Biltmore Stick
Dendrometer
Phiband
2.3 Jenis Data
Jenis data yang digunakan ialah data primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari kegiatan pengukuran langsung dilapangan. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari hasil tinjauan pustaka. Pustaka yang digunakan ialah pustaka yang relevan dengan tujuan praktikum.
2.4 Metode Pengukuran
Pohon sampel yang akan diukur berada dalam beberapSepuluh pohon yang telah ditentukan diukur dengan menggunakan alat-alat yang disediakan. Pengukuran dengan alat yang berbeda memiliki cara yang berbeda. Pada pita ukur, pohon yang diukur ialah kelilingnya. Untuk mendapatkan data diameter, hasil dari pita ukur yang berupa keliling harus diubah terlebih dahulu. Berbeda dengan phiband. Hasil yang diperoleh dari phiband sudah merupakan data diameter.
Pengukuran dengan caliper sebaiknya dilakukan dua kali, yaitu pada diameter kecil dan diameter tegak lurus padanya, kemudian diambil nilai rata-ratanya.
2.5 Analisis Data
Data yang telah dihasilkan akan dilakukan analisis data. Data akan dianalisis berdasarkan jenis pengukuran yang dilakukan seperti perbandingan hasil pengukuran diameter dari suatu alat terhadap pita ukur. Untuk mengetahui perbandingan tersebut dilakukan pengujian hipotesis sebagai berikut:
H_0: µ_i=µ_p atau H_0:x ̅_ei=0 ; artinya alat ukur jenis ke-i memberikan hasil pengukuran diameter pohon yang sama dengan pita ukur (p), jadi hasil pengukuran kedua alat ini tidak berbeda.
H_1: µ_i=µ_p atau H_0:x ̅_(e〱)≠0 ; artinya alat ukur jenis ke-i memberikan hasil pengukuran diameter pohon yang tidak sama dengan pita ukur (p), jadi hasil pengukuran kedua alat ini berbeda.
Hipotesis tersebut dapat diuji dengan menggunakan _isbandi uji dan kaidah keputusan sebagai berikut (sama hal nya dengan pengujian hipotesis dalam metode statistika):
t_hitung=|x ̅_ei |/√((S_eij^2)/n)
t_hitung≤ t_(α/2)(n-1) ; terima H0
t_hitung> t_(α/2)(n-1) ; tolak H0
Sedangkan untuk diameter dan luas bidang dasar dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:
Diameter
d=Keliling/π
Luas bidang dasar pohon
LBDS= 1/4 πd^2
Hasil pengukuran diameter pohon diperoleh, kemudian dicari nilai bias alat yang digunakan. Nilai bias menunjukkan kecenderungan nilai pengukuran yang lebih besar (overestimate) atau lebih kecil (underestimate) dari suatu alat _isbanding hasil pengukuran dengan pita ukur. Nilai bias dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
Bias=∑_ij^n▒e_ij
Setelah menghitung nilai bias, selanjutnya ditentukan nilai simpangan dan MAE (Simpangan Baku Mutlak Rata-rata). Simpangan dapat ditentukan dengan rumus:
Simpangan=e_ij=x_ij-x_pj
Sedangkan rata-rata simpangan dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut:
x ̅_ei=(∑_(i,j)^n▒e_ij )/n
Ragam simpangan yang menunjukkan ketelitian alat, dimana semakin besar nilai ragam, maka ketelitian hasil pengukuran dari alat tersebut relatif rendah. Ragam simpangan dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:
S_(e_ij)^2=(∑_(i,j)^n▒〖e_ij^2-(∑_(i,j)^n▒e_ij )^2/n〗)/(n-1)
Nilai MAE yang menunjukkan nilai ketepatan alat, dimana semakin besar nilai MAE maka ketepatan hasil ketepatan tersebut relatif rendah. MAE dapat dihitung dengan rumus:
MAE=(∑_ij^n▒|e_ij | )/n
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Seluruh hasil pengukuran dan rekapitulasi pengukuran diameter serta luas bidang dasar pohon dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Perhitungan Diameter dan Luas bidang dasar dari keseluruhan alat
No. Nama/ jenis pohon x ̅_ei (cm) S_(e_ij)^2 (cm) LBDS (m2)
1. Pohon A 2.07 3.68 0.05
2. Pometia pinnata 0.03 1.89 0.035
3. Pohon B 1.2 2.60 0.035
4. Shorea pinanga 0.2 2.76 0.04
5. Shorea pinanga 8.9 10.40 0.11
6. Pohon C 6.63 9.16 0.12
7. Pometia pinnata 0.87 3.94 0.1
8. Hopea macarawan -2.67 2.63 0.15
9. Shorea pinanga 4.9 7.52 0.1
10. Pohon C 2.77 5.49 0.085
Tabel di atas menujukkan bahwa rata-rata simpangan pengukuran dan ragam pengukuran yang terbesar adalah pada pengukuran Shorea pinanga (8.9 dan 10.40). Hal ini disebabkan oleh perbedaan nilai pengukuran Shorea pinanga yang dihasilkan oleh alat-alat yang digunakan cukup besar. Dengan demikian, hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh alat-alat tersebut kurang valid. Luas bidang dasar (LBDS) terbesar dimiliki oleh pohon Hopea macarawan, yaitu 0.15 m2. Hal ini menunjukkan bahwa pohon Hopea macarawan memiliki diameter setinggi dada (Dbh) yang terbesar.
Tabel 2. Perbandingan ketelitian dan ketepatan hasil pengukuran tiap alat
No.
Pohon Kriteria Perbandingan hasil pengukuran
C-P S-P B-P
1 Kecenderungan hasil pengukuran (overestimate atau underestimate) Underestimate Overestimate Overestimate
2 Ketelitian alat Teliti Tidak teliti Kurang teliti
3 Ketepatan alat Kurang tepat Tidak tepat Lebih tepat
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa hasil pengukuran Caliper cenderung underestimate, sedangkan SRB dan Biltmorestick cenderung overestimate. Perbedaan pengukuran ini disebabkan oleh perbedaan bias pengukuran pada tiap alat yang dipakai. Bias pengukuran ini berkaitan dengan cara penggunaan alat maupun skala yang digunakan.
Alat yang memiliki ketelitian yang paling tinggi adalah Caliper, karena secara teoritis Caliper tidak berbias sehingga memiliki ragam simpangan pengukuran yang rendah. Kadar pencahayaan tidak mempengaruhi pengukuran Caliper. Namun kadar pencahayaan sangat berpengaruh terhadap pengukuran SRB maupun Biltmorestick.
Alat yang memiliki ketepatan tertinggi yaitu Biltmorestick. Hal ini disebabkan nilai simpangan rata-rata mutlak dari Biltmorestick lebih kecil dari Caliper maupun SRB. Dari segi kemudahan penggunaan di lapang, Caliper merupakan alat yang paling mudah dipakai, baik untuk pohon yang masih berdiri tegak maupun yang sudah roboh. Namun, alat ini kurang praktis karena bentuknya yang cukup memakan ruang dan cukup berat untuk dibawa. SRB dan Biltmorestick praktis dibawa dalam pengukuran di lapang. Namun penggunaan kedua alat tersebut cukup rumit sehingga hasil pengukurannya sering kali kurang tepat, karena kadar pencahayaan sangat berpengaruh pada ketepatan pengukuran.
24 March 2009
SUGGESTIONS FOR GUDAWANG
Observations made during the ± 3 days in the three areas Gudawang namely Gua Gua Simenteng, Simasigit Cave, and Cave and the surrounding Sipahang obtained results as follows:
1. Four species of swallow found in the area of Cave Gudawang Sarang White swallow (Collocalia fuciphaga), Sarang Black swallow (Collocalia maxima), Mount swallow (Collocalia vulcanorum), and swallow Cow / Linchi (Collocalia linchi). The four types of swallow has characteristics that most resemble each other. However, there are specific characteristics that can distinguish them easily.
2. Inside the cave, the four types of swallow is put to use the cave nest and rest after beraktivitas outside the cave. Rice fields, yards and people around (outside) area of the cave used to search for food, collect material to make a nest and spin (roving).
3. The area around the cave outside of the third cave, yard people, and have a relationship between rice field. Swallow first utilize the area outside the cave at a certain time, then exit and use the yard. After the yard to, swallow the rice fields toward the local people to find prey at certain times also, and vice versa.
Suggestions
Results of this research are expected to serve as a source of information about benefits for Karst swallow. In addition, this research is expected to serve as reference and guidance in the management of Cave Gudawang good Simenteng Gua, Gua Gua Sipahang and Simasigit that the existence of a cave swallow and animals can be maintained and further enhanced. Great expectations author, this research can continue to be followed in order to get maximum results. Much-needed criticism and suggestions for improvements to the building of this research.
MY DISCUSSION ABOUT GUDAWANG SWALLOW
Swallow were found in the cave is Gudawang White Sarang swallow (Collocalia fuciphaga), Sarang Black swallow (Collocalia maxima), Mount swallow (Collocalia vulcanorum), and swallow Cow / Linchi (Collocalia linchi). Fourth type of swallow is utilized in the area in and around caves.
Habitat used as shelter (cover), breeding and resting places for animals (Alikodra 1990). One of the natural habitat is the place bersarangnya cave swallow (Apriandi et al 2006). Observation proves the statement of truth, ie, finding the nest in the wall of a cave swallow. The existence of the nest showed that, using the swallow cave as shelter, rest, and breed.
According Mardiastuti (1999) determine the location of the profile wall nest. Wall of a cave that is suitable for attaching a nest cave wall is a fairly flat but has a bulge-bulge short and simply hang to dry. Formation stalaktit, stalakmit, draperies, and so not suited to swallow because it is too wet. Simenteng Cave is one of the caves that are not suitable to swallow because of wet conditions too, stalaktit formation and stalakmit in Cave Simenteng long. Unlike the Cave Simasigit a muddy but not too wet. In addition stalaktit formation and stalakmit Cave Simasigit quite short compared with the Gua Simenteng. Therefore, the amount of the Cave Simasigit swallow more than the amount in the cave swallow Simenteng.
Based on the data obtained in the field was able to prove the truth of that cave is a habitat that is not separated from the environment outside the cave (Rahmadi 2008). Changes that occur outside and inside the cave will be very influential in the cave environment. Changes outside the cave environment will affect the availability of feed resources in the cave (Rahmadi 2008).
Cave in Gudawang has made many changes from the mouth of the cave to the lighting in the cave, especially the Cave Simenteng. This change will not necessarily result in better adaptation of cave animals (Rahmadi 2008). I have normal animals adapt to the dark cave environment and humid (Noerdjito 2000b Samodra in 2001) due to these changes, the swallow more beraktivitas outside the cave. Swallow was more like beraktivitas outside of the cave in the cave because of the availability of food in the cave is very small. Cave only be used as a cover to swallow it. In place in the cave swallow nest, keep the children and the rest.
A swallow in the cave depends on the cave wall with claw feet that occupy small (Mardiastuti 1999). Activities are consistent with the activity of swallow found in Simenteng Cave and Cave Simasigit. Meanwhile, outside the cave areas such as yards and swallow rice field used as a place to find food.
Outside the cave, always found a swallow flying almost never even seen perch and roost on the branches and foliage. This is according to Mardiastuti (1999) that the swallow is a group of birds that are able to fly throughout the day and can not perch like other birds. This is because in general have a swallow leg and foot are very small (Apodiformes means without feet).
Swallow is a group of cave fauna of the cave as a place to live but his life still periodically depending on the area outside the cave, especially for feed (Rahmadi 2008). The availability of feed in and around the cave is one of the factors supporting the swallow (Noerdjito 2000b Samodra in 2001). With the limited supply of feed, can influence who swallow cave and its surroundings. Based on observation, the number of swallow found in rice field quite a lot of people. This proves that rice is a source of food for the swallow. Swallow every morning I go out to search for food and swallow the afternoon after returning to the cave to feed their needs met. But if needs not met pakannya, swallow and then search for food in other places, such as yards.
Before entering the Cave Gudawang, swallow normally fly reel (roving) in the area around the cave, which is standing between the big leaf mahogany and acacia standing. Likewise if you swallow will exit the cave. Swallow first utilize space in a cave for the spin (roving). Summary swallow dikawasan Cave Gudawang function shows that the cave Marzuki et al. (1979) in Kartiwa (1997) established. Function is (1) area to spin (roving area) that is used before entering the cave swallow, and (2) the room to spin (roving room) that is used before the swallow cave exit.

